Jumat, 31 Mei 2013



HARAPAN DI DALAM DARAH YESUS

            Semalam (30.05.2013) saya membaca Alkitab di Keluaran 23. Beberapa ayat mendapat perhatian saya, yaitu ayat 10-13. Di situ dikatakan bahwa tanah hanya boleh dikerjakan selama 6 tahun. Dan tanah harus dibiarkan tidak terolah sepanjang tahun selama tahun ke-7. Di dalam benak saya, jika diterapkan di jaman sekarang, itu artinya, toko hanya boleh buka selama 6 tahun, dan tahun ke-7 tutup, sementara karyawan tetap di gaji penuh. Wow…belum pernah ada yang melakukan hal itu sekarang. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana hal itu bisa dilakukan di jaman sekarang ini. Bahkan hari minggu saja masih banyak yang ngotot mau buka usaha. Kok malah di suruh tutup satu tahun di tahun ke-7. Lalu perhatian saya tersedot lagi di ayat 21. Tuhan memperingati bangsa Israel dengan sangat keras agar mereka hidup menurut ketetapan Tuhan. Setelah membaca satu pasal itu, saya menutup Alkitab, merenung, dan kemudian berdoa.

           Didalam doa, hati dan pikiran saya berputar-putar merenungkan kedua ayat tersebut. Maksudnya bukan mengenai buka tutup toko di tahun ke-7, tetapi mengenai menjalankan perintah Tuhan. Ayat-ayat ini seakan-akan “mengintimidasi” saya. Ayat-ayat ini seakan-akan berkata kepada saya, “Hayo, sudah melakukan firman Tuhan dengan benar belum? Hayo, ada yang masih kurang! Kamu belum ini, kamu belum itu, masih kurang ini, masih kurang itu.” Dan lain sebagainya. Saya merenung dalam doa, dan kemudian, mendadak, hati saya menangis, hancur, dan muncul perasaan tidak layak. Saya mengakui di hadapan Tuhan bahwa saya tidak bisa melakukan kehendak Tuhan dengan baik. Banyak ketetapan Tuhan yang tidak saya lakukan, bahkan saya langgar. Banyak kebimbangan, ketidakpercayaan, kemarahan, kebencian, hal-hal terlarang timbul dalam hati dan pikiran, dan masih banyak hal-hal yang tidak berkenan lainnya. Sejak pertobatan saya tahun 1995 hingga sekarang, belum pernah saya berdoa seperti itu. Hancur hati karena bertobat. Saya mengakui di hadapan Tuhan bahwa begitu banyak dosa yang saya lakukan selama ini, yang mulanya saya kira baik-baik saja. Dari situlah saya benar-benar sadar sepenuhnya, bahwa saya butuh Yesus. Itu sebabnya Tuhan Yesus datang ke dunia. Menderita sengsara dan mati buat kita. Bangkit 3 hari kemudian. Setelah 40 hari menampakkan diri kepada para saksi, Dia naik ke surga. Itu sebabnya Dia datang membuka jalan, menjemput saya. Apa sebabnya? Yaitu dosa dan kelemahan saya sebagai manusia, tidak bisa dan tidak mungkin bisa melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Baru kali ini saya sadar betul mengapa Tuhan Yesus datang membawa kasih karunia. Membawa anugerah. Memampukan yang tidak mampu. Melayakkan yang tidak layak. Membangkitkan yang mati, dan mengobarkan yang hampir padam. Menyembuhkan yang sakit, dan memelihara yang sudah sehat. Dan masih banyak lagi perbuatan Tuhan Yesus pada orang-orang yang menerima pengampunan-Nya.

            Berdasarkan pengertian itu saya langsung berteriak dalam hati, “TUHAAAAN, SAYA MEMANG TIDAK LAYAK. SAYA ORANG BERDOSA. SAYA TIDAK LAYAK DIBERKATI. TAPI SAYA BUTUH DIBERKATI. SAYA BUTUH TUHAN YESUS!!!! SAYA BUTUH DILAYAKKAN. SAYA BUTUH DIBENARKAN. AGAR SAYA BISA DATANG KEPADA BAPA DAN MEMINTA BERKAT. SAYA BUTUH KASIH KARUNIA YANG DARI TUHAN YESUS!!! TUHAN YESUUUUS!!! TOLONG SAYA, LAYAKKAN SAYA DENGAN DARAHMU YANG TERCURAH DI KAYU SALIB!!!” Hati saya menjerit menangis, dan mulai mengerti apa itu kasih karunia. Apa itu anugerah. Ternyata, tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mendapat anugerah itu, kecuali duduk diam di hadirat Tuhan dalam doa. Mengakui dengan sepenuh hati dan dengan pengertian yang benar bahwa kita orang berdosa yang tidak layak apa-apa kecuali neraka. Meminta Tuhan membongkar semua dosa-dosa tersembunyi yang di dalam hati dan pikiran. Setelah Tuhan menunjukkan dengan spesifik, maka kita perlu mengakuinya dan minta pengampunan. Intinya adalah; mengakui dan buka hati untuk dioperasi (surgery) oleh Roh Kudus.

            Dari pengertian itu, saya mulai mengerti bahwa selama ini – sejak awal pertobatan tahun 1995 – tidak ada satupun apa yang saya lakukan dapat menyenangkan hati BAPA. TIDAK ADA! Sebab saya tidak mengerti selera Bapa. Yang mengerti selera Bapa HANYALAH Tuhan Yesus. Jadi, untuk menyenangkan Bapa, saya butuh Tuhan Yesus. Bagaimana caranya? Yaitu meminta dalam doa, meminta darah Yesus menyucikan dan melayakkan saya. Setelah itu tetap melakukan apa yang harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Yang membedakan adalah sikap hati. Sebelum peristiwa kemarin, saya berfokus pada apa yang terjadi di sekeliling saya dan berfokus pada hasil. Ini membuat saya stress. Emosi jadi naik turun, pikiran dan hati berputar tidak karuan. Semuanya menjadi tidak stabil. Semenjak kejadian kemarin, saya mempusatkan hati dan pikiran saya kepada kasih karunia Tuhan Yesus. Saya sering membayangkan salib dan mengucap syukur atasnya. Thank You for the cross, Lord. Lagu itu sering melantun lembut di hati dan pikiran. Semakin memikirkan salib, semakin memahami betapa berharganya kasih karunia yang Tuhan Yesus bawa buat saya, buat kita semua. Sejak itu, saya bisa bekerja dengan tenang, melakukan yang terbaik, dan tidak peduli pada hasil, tetapi pada proses. Sebab proses adalah kesempatan yang Tuhan berikan untuk saya kerjakan. Proses membuat saya belajar lebih lagi untuk menjadi lebih baik. Ini adalah persembahan saya buat Tuhan. Untuk menjadi orang yang excellent. Hasil adalah mutlak di tangan Tuhan.

            Tuhan Yesus membutuhkan hati yang mau berserah dan mengandalkan kasih karunia. Ibarat sebuah botol, dia harus diletakkan lebih rendah dari aliran air agar botol itu terisi air. Apa yang terjadi jika botol kosong diletakkan lebih tinggi dari aliran air, maka air tidak akan mengalir memenuhi botol itu. Demikianlah hati manusia. Harus diletakkan di bawah kaki Tuhan Yesus agar bisa di isi anugerah. Setelah anugerah memenuhi hati, nantikan apa yang bisa Tuhan lakukan dalam hidup ini.

            Tulisan ini bermula dari pengalaman saya bersama Tuhan. Memang setiap kita memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Namun saya percaya bahwa Tuhan sedang membawa kita semua menuju kepada karakter Kristus. Saya berharap tulisan ini bisa menjadi berkat bagi kita semua. Amin.