HARAPAN DI DALAM DARAH
YESUS
Semalam (30.05.2013) saya membaca Alkitab di Keluaran 23. Beberapa ayat
mendapat perhatian saya, yaitu ayat 10-13. Di situ dikatakan bahwa tanah hanya
boleh dikerjakan selama 6 tahun. Dan tanah harus dibiarkan tidak terolah
sepanjang tahun selama tahun ke-7. Di dalam benak saya, jika diterapkan di
jaman sekarang, itu artinya, toko hanya boleh buka selama 6 tahun, dan tahun
ke-7 tutup, sementara karyawan tetap di gaji penuh. Wow…belum pernah ada yang
melakukan hal itu sekarang. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana hal itu
bisa dilakukan di jaman sekarang ini. Bahkan hari minggu saja masih banyak yang
ngotot mau buka usaha. Kok malah di suruh tutup satu tahun di tahun ke-7. Lalu
perhatian saya tersedot lagi di ayat 21. Tuhan memperingati bangsa Israel
dengan sangat keras agar mereka hidup menurut ketetapan Tuhan. Setelah membaca
satu pasal itu, saya menutup Alkitab, merenung, dan kemudian berdoa.
Didalam doa,
hati dan pikiran saya berputar-putar merenungkan kedua ayat tersebut. Maksudnya bukan mengenai buka tutup toko di tahun ke-7, tetapi mengenai menjalankan perintah Tuhan. Ayat-ayat
ini seakan-akan “mengintimidasi” saya. Ayat-ayat ini seakan-akan berkata kepada
saya, “Hayo, sudah melakukan firman Tuhan dengan benar belum? Hayo, ada yang
masih kurang! Kamu belum ini, kamu belum itu, masih kurang ini, masih kurang
itu.” Dan lain sebagainya. Saya merenung dalam doa, dan kemudian, mendadak,
hati saya menangis, hancur, dan muncul perasaan tidak layak. Saya mengakui di
hadapan Tuhan bahwa saya tidak bisa melakukan kehendak Tuhan dengan baik.
Banyak ketetapan Tuhan yang tidak saya lakukan, bahkan saya langgar. Banyak
kebimbangan, ketidakpercayaan, kemarahan, kebencian, hal-hal terlarang timbul
dalam hati dan pikiran, dan masih banyak hal-hal yang tidak berkenan lainnya. Sejak
pertobatan saya tahun 1995 hingga sekarang, belum pernah saya berdoa seperti
itu. Hancur hati karena bertobat. Saya mengakui di hadapan Tuhan bahwa begitu
banyak dosa yang saya lakukan selama ini, yang mulanya saya kira baik-baik
saja. Dari situlah saya benar-benar sadar sepenuhnya, bahwa saya butuh Yesus.
Itu sebabnya Tuhan Yesus datang ke dunia. Menderita sengsara dan mati buat
kita. Bangkit 3 hari kemudian. Setelah 40 hari menampakkan diri kepada para
saksi, Dia naik ke surga. Itu sebabnya Dia datang membuka jalan, menjemput
saya. Apa sebabnya? Yaitu dosa dan kelemahan saya sebagai manusia, tidak bisa dan tidak
mungkin bisa melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Baru kali ini saya sadar
betul mengapa Tuhan Yesus datang membawa kasih karunia. Membawa anugerah.
Memampukan yang tidak mampu. Melayakkan yang tidak layak. Membangkitkan yang
mati, dan mengobarkan yang hampir padam. Menyembuhkan yang sakit, dan
memelihara yang sudah sehat. Dan masih banyak lagi perbuatan Tuhan Yesus pada
orang-orang yang menerima pengampunan-Nya.
Berdasarkan
pengertian itu saya langsung berteriak dalam hati, “TUHAAAAN, SAYA MEMANG TIDAK
LAYAK. SAYA ORANG BERDOSA. SAYA TIDAK LAYAK DIBERKATI. TAPI SAYA BUTUH
DIBERKATI. SAYA BUTUH TUHAN YESUS!!!! SAYA BUTUH DILAYAKKAN. SAYA BUTUH
DIBENARKAN. AGAR SAYA BISA DATANG KEPADA BAPA DAN MEMINTA BERKAT. SAYA BUTUH
KASIH KARUNIA YANG DARI TUHAN YESUS!!! TUHAN YESUUUUS!!! TOLONG SAYA, LAYAKKAN
SAYA DENGAN DARAHMU YANG TERCURAH DI KAYU SALIB!!!” Hati saya menjerit
menangis, dan mulai mengerti apa itu kasih karunia. Apa itu anugerah. Ternyata,
tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mendapat anugerah itu, kecuali duduk
diam di hadirat Tuhan dalam doa. Mengakui dengan sepenuh hati dan dengan
pengertian yang benar bahwa kita orang berdosa yang tidak layak apa-apa kecuali
neraka. Meminta Tuhan membongkar semua dosa-dosa tersembunyi yang di dalam hati
dan pikiran. Setelah Tuhan menunjukkan dengan spesifik, maka kita perlu
mengakuinya dan minta pengampunan. Intinya adalah; mengakui dan buka hati untuk
dioperasi (surgery) oleh Roh Kudus.
Dari
pengertian itu, saya mulai mengerti bahwa selama ini – sejak awal pertobatan tahun 1995 – tidak ada
satupun apa yang saya lakukan dapat menyenangkan hati BAPA. TIDAK ADA! Sebab
saya tidak mengerti selera Bapa. Yang mengerti selera Bapa HANYALAH Tuhan
Yesus. Jadi, untuk menyenangkan Bapa, saya butuh Tuhan Yesus. Bagaimana
caranya? Yaitu meminta dalam doa, meminta darah Yesus menyucikan dan melayakkan
saya. Setelah itu tetap melakukan apa yang harus dilakukan dalam kehidupan
sehari-hari. Yang membedakan adalah sikap hati. Sebelum peristiwa kemarin, saya
berfokus pada apa yang terjadi di sekeliling saya dan berfokus pada hasil. Ini
membuat saya stress. Emosi jadi naik turun, pikiran dan hati berputar tidak
karuan. Semuanya menjadi tidak stabil. Semenjak kejadian kemarin, saya
mempusatkan hati dan pikiran saya kepada kasih karunia Tuhan Yesus. Saya sering
membayangkan salib dan mengucap syukur atasnya. Thank You for the cross, Lord.
Lagu itu sering melantun lembut di hati dan pikiran. Semakin memikirkan salib,
semakin memahami betapa berharganya kasih karunia yang Tuhan Yesus bawa buat saya, buat
kita semua. Sejak itu, saya bisa bekerja dengan tenang, melakukan yang terbaik,
dan tidak peduli pada hasil, tetapi pada proses. Sebab proses adalah kesempatan
yang Tuhan berikan untuk saya kerjakan. Proses membuat saya belajar lebih lagi
untuk menjadi lebih baik. Ini adalah persembahan saya buat Tuhan. Untuk menjadi
orang yang excellent. Hasil adalah mutlak di tangan Tuhan.
Tuhan Yesus
membutuhkan hati yang mau berserah dan mengandalkan kasih karunia. Ibarat
sebuah botol, dia harus diletakkan lebih rendah dari aliran air agar botol itu
terisi air. Apa yang terjadi jika botol kosong diletakkan lebih tinggi dari
aliran air, maka air tidak akan mengalir memenuhi botol itu. Demikianlah hati
manusia. Harus diletakkan di bawah kaki Tuhan Yesus agar bisa di isi anugerah.
Setelah anugerah memenuhi hati, nantikan apa yang bisa Tuhan lakukan dalam
hidup ini.
Tulisan ini
bermula dari pengalaman saya bersama Tuhan. Memang setiap kita memiliki pengalaman
yang berbeda-beda. Namun saya percaya bahwa Tuhan sedang membawa kita semua
menuju kepada karakter Kristus. Saya berharap tulisan ini bisa menjadi berkat
bagi kita semua. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar